Hasil belajar
dipengaruhi oleh proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkualitas akan
meningkatkan hasil belajar, dan sebaliknya proses pembelajaran yang asal-asalan
akan memperburuk hasil belajar. Peningkatan kualitas pembelajaran dari segi proses merupakan
upaya-upaya untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran yang mengarah kepada
terjadinya prakarsa belajar oleh peserta didik. Hal ini hanya bisa terjadi jika
strategi pembelajaran yang digunakan berangkat dari landasan teoretik yang
cocok, yaitu yang lebih memberi peluang kepada peserta didik untuk mengalami growth
of learning.
Pembelajaran yang
berkualitas juga mencerminkan adanya lingkungan belajar yang memungkinkan
peserta didik dapat melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan
emosionalnya, melakukan pilihan-pilihan yang memungkinkannya terlibat secara
fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, serta lingkungan yang
memberinya kebebasan menentukan pilihan belajar sesuai dengan kemampuan dan
minatnya.
Pemanfaatan TIK
dalam pembelajaran menjadi tuntutan yang mendesak di abad 21. Guru memiliki
peranan yang strategis dalam satuan pendidikan. Oleh karena itu penggunaan TIK
di sekolah hendaknya dimulai dari titik pangkal yang strategis pula yaitu guru.
TIK memilliki
beberapa fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, antara lain:
1.
Teknologi
berfungsi sebagai alat bantu bagi guru atau peserta didik untuk membantu
pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, mengolah angka, membuat unsur
grafis, membuat database, membuat program administrasi;
2.
Teknologi
berfungsi sebagai bahan dan alat bantu untuk pembelajaran (literacy). Teknologi dimaknai sebagai bahan pembelajaran sekaligus
sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah kompetensi berbantuan komputer;
3.
Teknologi
berfungsi sebagai ilmu pengetahuan, misalnya teknologi komputer dipelajari oleh
beberapa jurusan di perguruan tinggi seperti informatika, manajemen informasi,
ilmu komputer dalam pembelajaran di sekolah mata pelajaran TIK/informatika.
Di berbagai
negara baik negara maju maupun negara berkembang, proses pembelajaran di
sekolah berlangsung menggunakan media TIK. Banyak media yang dapat digunakan
dalam pembelajaran kaitannya dengan TIK, misalnya, LCD, Notebook, Televisi,
Internet, dan sebagainya. Penggunaan TIK tersebut tentunya dapat menunjang dan
membantu para guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran. Begitupun para peserta
didik, akan lebih mudah tertarik dan kemudian diharapkan dapat memahami apa
yang disampaikan oleh guru.
TIK merupakan salah satu media pembelajaran yang sangat efektif bagi
guru untuk membangun pengetahuan peserta didik. Apalagi pada zaman sekarang
perkembangan teknologi semakin pesat. Jika kita tidak mengenal dan mengikuti
perkembangan TIK tersebut, maka dapat dipastikan guru akan ketinggalan jauh
dari peserta didiknya.
Namun, fakta di lapangan masih banyak ditemukan guru belum dapat
menggunakan perangkat TIK (komputer). Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi
pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Bagaimana mungkin dapat menjadi guru yang
berhasil jika di zaman digital, jika guru tidak literat (melek) TIK?. Sudah
sering kita mendengar himbauan dari dinas terkait dan berbagai kalangan agar
guru secara mandiri menyisihkan sebagian kecil tunjangan profesinya untuk
meningkatkan kompetensinya, termasuk kemampuan menggunakan TIK dalam
pembelajaran.
Guru dapat belajar TIK dari berbagai media yang banyak tersedia di
pasaran, seperti melalui buku, melalui internet, dan melalui
diklat-diklat. Diklat ada yang
diselenggarakan pemerintah dan ada diklat yang diselenggarakan oleh lembaga
tertentu. Diklat yang direkomendasikan adalah diklat online (daring), karena
pelaksanaannya sangat fleksibel. Diklat dapat diikuti oleh semua kalangan yang
tidak terikat dengan tempat dan waktu. Diklat online tidak mengganggu tugas
utama guru di kelas. Syarat utamanya hanya diperlukan koneksi internet dan
mempunyai rasa ingin tahu kuat.
Salah satu kegiatan atau program tahunan yang direkomendasikan adalah diklat
online yang diselenggarakan Pustekkom
Kemdikbud RI. Program yang dimaksud yaitu pembaTIK (pembelajaran berbasis TIK).
Kegiatan ini direncanakan dilaksanakan dalam empat level dan dapat diikuti oleh
guru dari jenjang PAUD sampai SMA/SMK, baik pns maupun non pns. Selain resmi,
bersertifikat, gratis, juga bagi peserta yang mencapai level empat akan
didaulat menjadi Duta Rumah Belajar Kemdikbud di Provinsinya masing-masing. Duta
tersebut kemudian berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan pendidikan yang
penting, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Ayo guru Indonesia, belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa
saja.
Salam
literasi.....
Komentar
Posting Komentar